Final Liga Champions musim ini merupakan sebuah keajaiban bagi Atletico Madrid. Namun, tampaknya Liga Champions masih merupakan panggung yang terlalu besar bagi Atletico. Datang ke final dengan rekor belum pernah terkalahkan belum cukup untuk menahbiskan mereka sebagai juara. Adalah Real Madrid, klub tetangga sekaligus musuh bebuyutan merekalah yang memupus mimpi indah mengawinkan gelar La Liga dengan Liga Champions.
Tentu kita semua kenal dengan dinosaurus kan? Binatang yang populer
dalam film Jurassic Park arahan sutradara Stephen Spielberg ini nampak
spektakuler apabila dibandingkan dengan binatang-binatang saat ini. Lihat saja
ukuran tubuh fosil dinosaurus yang ditemukan di Lisbon, Portugal baru-baru ini.
Dinosaurus pemangsa atau karnivora yang dikenal dengan nama Torvosaurus gurneyi ini panjang badannya
dapat mencapai 10 meter dengan berat 4 hingga 5 ton. Binatang darat yang paling
besar di muka bumi saat ini pun, Gajah Afrika, panjangnya hanya mencapai sekitar
6 meter.
Dapat dibayangkan seandainya dinosaurus ini hidup pada zaman moderen, mungkin makhluk seperti manusia tidak akan pernah merasa aman, karena berpotensi menjadi incaran santap malamnya. Bahkan pada masanya, dinosaurus ini sangat mungkin berada di puncak piramida makanan. Banyak lagi dinosaurus yang berukuran lebih spektakuler dengan kemampuan predator yang menakjubkan.
![]() |
| Manusia vs Torvosaurus gurneyi |
Kajian tentang dinosaurus sangat menarik perhatian para
arkeolog. Penggalian atau eskavasi di beberapa situs yang diperkirakan terdapat
fosil dinosaurus tidak henti-henti dilakukan. Tidak hanya arkeolog, beberapa
sineas pun tertarik untuk menjadikan dinosaurus sebagai objek olah teknologi
animasinya.
Nah, dinosaurus ini pun menarik perhatian saya ketika pada
suatu waktu jaringan internet di kampus kami mati. Saya yang saat itu sedang
asyik berselancar menggunakan peramban Chrome dari Google spontan melihat ikon
dinosaurus dengan tulisan “Unable to connect to the Internet”. Berarti karena tidak
dapat tersambung ke internet, saya dianggap berasal dari zaman Jurassic nih, pikir
saya.
![]() |
| Ikon Dinosaurus pada Google Chrome |
Spontan ingatan saya bergulir pada sebuah film yang saya
tonton baru-baru ini. Judulnya The Internship (2013). Film ini mengisahkan dua
orang lelaki usia 40-an yang dirumahkan oleh perusahaan arloji tempat mereka
bekerja. Tidak berhenti di situ, salah satu dari pria tersebut (diperankan Vince Vaughn) ditinggalkan
oleh isterinya (atau pacarnya?). terpaksa mereka mencari kerja serabutan untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Singkat cerita, mereka akhirnya menemukan tempat
kerja, tepatnya tempat magang di perusahaan internet terbesar di dunia. Mereka magang
di Google. Di sinilah kelucuan demi kelucuan terjadi. Bayangkan, dua orang
lelaki usia 40-an yang bahkan tidak memiliki akun Facebook, harus kerja di
perusahaan IT seperti Google. Ada sebuah ucapan yang menancap di pikiran saya, kurang
lebih berbunyi seperti ini: “Google tidak cocok untuk dua orang dinosaurus
seperti kalian.” Ucapan ini dikatakan oleh pesaing mereka (saya lupa namanya,
unduh dan tonton sendiri filmnya ya) dalam kegiatan magang tersebut. Dan,
sebagaimana kebanyakan film Hollywood lainnya, film ini berakhir dengan happy ending dengan lulusnya mereka
berdua dalam program magang serta menjadi karyawan tetap Google.
![]() |
| 'The Internship' (2013) |
Ada sebuah benang merah yang hendak saya katakan di tulisan ini.
Pertama, Menjadi akrab dengan internet itu penting. Internet membantu kita dalam
mengerjakan tugas-tugas, mengajari kita dengan berbagai tutorial, memberi kita
informasi terkini, bahkan dapat menemukan jodoh kita (tercatat setidaknya tiga
teman dan dua tetangga saya yang mendapat jodoh melalui comblang Facebook).
Pentingnya internet dalam kehidupan ditandai dengan makin
dekatnya teknologi ini dengan kita. Pada sekitar tahun 1997, saya harus
mengayuh sepeda sejauh 5 kilometer hanya untuk mengakses internet di kantor
pos. Biaya internet waktu itu masih relatif mahal, 6 ribu rupiah untuk satu jam
akses. Selain itu, orang harus menggunakan ‘peralatan berat’ untuk mengakses
internet; misalnya dengan desktop PC. Perkembangan berikutnya, internet semakin
mudah dan murah diakses, dengan menggunakan laptop. Saat ini, internet makin
dekat dengan kita seiring perkembangan teknologi ponsel dengan mobile OS-nya. Bahkan, beberapa waktu ke
depan orang akan terbiasa melihat rekan sebelahnya ngomong sendiri sambil
menggerak-gerakkan tangannya (karena menggunakan kacamata yang terhubung ke
internet). Bias jadi, di masa depan internet akan tertanam di tubuh kita,
mungkin ditempelkan ke saraf. Siapa tahu?
Kedua, meskipun internet penting, disadari atau tidak masih
ada dunia realitas di sekitar kita. Setahu saya, sampai sekarang belum pernah
ada KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang selesai hanya dengan mengakses internet. Bangun
rumah, mushola, bahkan balai kelurahan juga tidak mungkin dilakukan hanya
dengan internet. Apalagi pengerjaan skripsi, mustahil dapat selesai dengan
elegan apabila hanya mengandalkan internet sebagai rujukannya. Bahkan,
institusi seperti Google pun, membutuhkan ‘dua dinosaurus’ dalam organisasinya
(setidaknya dalam film Internship). So jadi, tidak perlu ragu-ragu untuk
sesekali menjadi ‘dinosaurus’ dan menatap keluar jendela (Torvosaurus gurneyi kan elegan?). Karena di sana masih ada realitas
yang bermakna.
Berbicara masalah organisasi sebenarnya berkaitan erat dengan kehidupan keseharian kita, karena keberadaannya yang di manapun ada. Di tingkat internasional kita jumpa organisasi seperti PBB, UNHCR, ASEAN, kemudian di tingkat negara ada PSSI, PERBAKIN, lalu di propinsi, kabupaten, kecamatan, hingga tingkat RT. Bahkan, manusia sendiri dapat dikatakan sebagai organisasi!
Berjalannya organisasi memerlukan sebuah manajemen yang baik. Sebesar apa pun organisasi, apabila tidak diiringi dengan manajemen yang baik, akan hancur dengan perlahan-lahan. Kaye, dalam bukunya Communication Management (1995) mengisyaratkan pentingnya manajemen—terutama manajemen komunikasi—dalam sebuah organisasi. Kaye mengajukan sebuah model “Manajemen Komunikasi Orang Dewasa” berupa sebuah boneka berlapis yang disebut “Boneka Matouschka Rusia.”
Kaye menyatakan bahwa orang dewasa memiliki empat boneka yang tersusun rapi membentuk lapisan-lapisan SELF, INTERPERSONAL, SYSTEM, dan COMPETENCE. SELF adalah bagian paling dalam dari manajemen komunikasi orang dewasa. Boleh dikatakan bahwa boneka yang mewakili SELF ini merupakan komponen komunikasi intrapersonal. INTERPERSONAL merupakan pembungkus boneka SELF, di mana fokusnya adalah pada “Bagaimana diri berinteraksi dengan liyan (the other/ others)?” Elemen interpersonal ini dapat dijelaskan sebagaimana perspektif konstruktivis memandang komunikasi, yakni “Proses di mana individu yang berinteraksi membuat makna tentang diri masing-masing, serta membuat makna mengenai sifat dan keadaan hubungan mereka.” Boneka ketiga adalah SYSTEM, di mana perhatian kajiannya adalah mengenai “Bagaimana sebuah sistem atau organisasi dapat memengaruhi cara berkomunikasi manusia yang berada di dalamnya?” Terakhir, boneka COMPETENCE digambarkan berada paling luar. Namun, menurut Kaye, bukan berarti boneka ini hanya berada di lapisan paling luar saja. Boneka COMPETENCE dapat terjadi pada setiap lapisan manajemen komunikasi orang dewasa. Manusia dikatakan memiliki boneka COMPETENCE ini ketika mereka mampu mengelola dengan baik komunikasi yang terjadi pada tiga boneka sebelumnya.
Mengingat Kaye yang menekankan peranan individu melalui boneka COMPETENCE, maka secara implisit dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya manusia pun merupakan organisasi, sebuah sistem. Sistem yang bernama manusia ini terdiri dari berbagai aspek yang menjadi cikal bakal terbentuknya sistem yang lebih besar seperti sistem antarpersonal, sistem kelompok, bahkan sistem massa.
Tampaknya, model yang dibangun oleh Michael Kaye tidak benar-benar baru. Setidaknya sosiolog Erving Goffman pernah membentangkan sebuah ide brilian mengenai manajemen komunikasi manusia. Dalam bukunya yang berjudul Presentation of Self in Everyday Life (1959), Goffman menyatakan tentang Teori Dramaturgis. Secara sederhana, istilah Dramaturgis mewakili keadaan kehidupan sosial di mana manusia bertingkah sebagaimana kehidupan dalam pentas pertunjukan drama. Manusia sebagaimana aktor yang memainkan berbagai peranan yang ditonton oleh orang lain.
Fungsi manajemen komunikasi dalam teori Goffman ini adalah ketika manusia mengelola pesan dalam dua panggung berbeda, panggung depan dan panggung belakang. Menurut Goffman, seorang aktor yang berhasil adalah ketika dia mampu mengajak penonton melihat sudut yang memang ingin diperlihatkan. Dengan demikian, manajemen komunikasi yang berhasil adalah apabila seorang manusia mampu mengajak manusia lain memahami dirinya sesuai dengan yang diinginkannya. Selain itu, seorang aktor yang baik juga mampu membedakan keberadaannya—apakah di panggung depan atau di panggung belakang. Panggung depan yang penuh dengan aturan konsep drama atau skenario tentu harus ditaati oleh seorang aktor yang baik. Sebaliknya, ketika berada di panggung belakang, aktor yang baik tentu tidak perlu memerankan drama sebagaimana di panggung depan tadi.
Organisasi—sebagai sebuah sistem—sebenarnya mirip dengan manusia. Ada kasus yang cukup menarik terkait dengan organisasi, yakni klub sepak bola Intermilan. Sebagaimana kita ketahui bersama, pada akhir tahun 2013 Intermilan beralih kepemilikan. Massimo Moratti, sang taipan minyak dari negeri pizza Italia melepas 70% kepemilikan sahamnya di Intermilan senilai 350 juta euro atau setara 5,3 triliun kepada Erick Thohir bersama dua rekannya Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo yang berasal dari Indonesia.
Beberapa hal yang saya amati terkait tentang perkembangan organisasi klub olahraga tersebut. Pertama, sejak semula sebenarnya Erick Thohir tidak begitu diterima oleh para fans Intermilan. Erick diragukan kecintaannya terhadap klub yang belum pernah terdegradasi ke seri-B itu. Motif Erick dicurigai hanya bisnis semata, sebagaimana yang dilakukannya kepada DC United—klub sepakbola di Amerika Serikat. Bila dihubungkan dengan boneka COMPETENCE-nya Michael Kaye, Erick Thohir dianggap tidak layak menjadi pemilik mayoritas saham Intermilan.
Kedua, hingga detik ini, Erick Thohir mengendalikan organisasi sepakbola Italia tersebut dari Jakarta. Ini berarti membentangkan jarak komunikasi sejauh 27.000 km, bahkan lebih. Erick pernah berkelakar bahwa dia sengaja mengendalikan klub ini dari Jakarta, karena tiap kali Erick berada di tribun kehormatan, Intermilan selalu ditaklukkan lawannya. Tentu saja ini berkaitan dengan boneka SYSTEM, di mana Thohir telah mengubah gaya komunikasi yang mengutamakan kedekatan geografis menjadi komunikasi bermedia.
Lalu berhasilkah manajemen komunikasi organisasi yang dilakukan oleh Erick Thohir? Terlalu dini untuk memutuskan keberhasilan atau kegagalan berkomunikasi ala Thohir ini. Setidaknya, sampai tulisan ini dibuat, klasemen sementara Liga Itali menunjukkan Intermilan berada di posisi kelima di bawah Fiorentina. Posisi tersebut empat tingkat lebih baik dibandingkan finish musim lalu yang berada di posisi sembilan.
Yang paling penting dalam manajemen komunikasi organisasi adalah memahami personal yang berada di dalamnya. Berikut ini saya kutipkan dari John L. Holland mengenai tipe kepribadian yang disandingkan dengan tipe pekerjaan. Pertama, Tipe Realistik. Tipe model ini memiliki kecenderungan untuk memilih lapangan pekerjaan yang berorientasi pada penerapan. Ciri-ciri tipe realistik yaitu: mengutamakan kejantanan, kekuatan otot, keterampilan fisik, mempunyai kecakapan dan koordinasi motorik yang kuat, kurang memiliki kecakapan verbal, konkrit, bekerja praktis, kurang memiliki keterampilan sosial, serta kurang peka dalam hubungan dengan orang lain.
Kedua, Tipe Intelektual / Investigatif. Orang yang mempunyai tipe kepribadian ini memiliki kecenderungan untuk memilih pekerjaan yang bersifat akademik. Ciri-cirinya adalah memiliki kecenderungan untuk merenungkan daripada mengatasinya dalam memecahkan suatu masalah, berorientasi pada tugas, tidak sosial, membutuhkan pemahaman, menyenangi tugas-tugas yang bersifat abstrak, memiliki nilai-nilai dan sikap yang tidak konvensional dan kegiatan-kegiatannya bersifat intraseptif.
Ketiga,Tipe Sosial. Orang yang mempunyai tipe kepribadian ini memiliki kecenderungan untuk memilih lapangan pekerjaan yang bersifat membantu orang lain. Ciri-cirinya adalah pandai bergaul dan berbicara, bersifat responsif, bertanggung jawab, kemanusiaan, bersifat religius, membutuhkan perhatian, memiliki kecakapan verbal dalam hubungan antarpribadi, kegiatan-kegiatannya rapi dan teratur, menjauhkan masalah dari pemecahan secara intelektual, lebih berorientasi pada perasaan.
Keempat, Tipe Konvensional. Orang yang mempunyai tipe kepribadian ini pada umumnya memiliki kecenderungan untuk melakukan kegiatan verbal, karena ia menyenangi bahasa yang tersusun baik, numerikal (angka) yang teratur, menghindari situasi yang abstrak, senang mengabdi, mengidentifikasikan diri dengan kekuasaaan, memberi nilai yang tinggi terhadap status dan kenyataan materi, mencapai tujuan dengan mengadaptasikan dirinya untuk tergantung pada atasan.
Kelima, Tipa Usaha/ Enterprising. Orang yang mempunyai tipe kepribadian ini memiliki ciri khas diantaranya menggunakan keterampilan-keterampilan berbicara dalam situasi dimana ada kesempatan untuk menguasai atau mempengaruhi orang lain, menganggap dirinya paling kuat, jantan, mudah melakukan adaptasi dengan orang lain, menyenangi tugas-tugas sosial yang abstrak, perhatian yang besar pada kekuasaan, status dan kepemimpinan, agresif dalam kegiatan lisan
Terakhir, Tipe Artistik. Orang yang mempunyai tipe kepribadian ini memiliki kecenderungan berhubungan dengan orang lain secara tidak langsung, bersifat sosial dan sukar menyesuaikan diri. Orang yang mempunyai tipe kepribadian artistik ini ditandai dengan berbagai macam tugas dan masalah yang memerlukan interpretasi atau kreasi bentuk-bentuk artistik melalui cita rasa, perasaan dan imajinai. Dengan kata lain, orang yang mempunyai tipe kepribadian artistik lebih menitikberatkan menghadapi keadaan sekitar dilakukan dengan melalui ekspresi diri dan menghindari keadaan yang bersifat intrapersonal, keteraturan, atau keadaan yang menuntut ketrampilan fisik.
So jadi, manajemen komunikasi organisasi itu gampang-gampang susah ya. Tapi agar kita tidak mudah menyerah untuk mewujudkan komunikasi yang baik dalam organisasi, dibalik saja kata-katanya menjadi “manajemen komunikasi organsiasi itu susah-susah gampang,” artinya walaupun susah di awal tapi gampang di akhiran.
*Disampaikan pada upgrading organisasi Himpunan Mahasiswa Komunikasi Unsoed.





