Alhamdulillah.
Kata itu spontan meluncur dari mulut saya ketika pemain dengan nomor punggung
20, Ilham Udin, sukses
memasukkan si kulit bundar ke gawang Le Van Truong. Saya kira ucapan yang sama juga keluar
dari jutaan mulut para penggemar sepak bola di tanah air. Ya, alhamdulillah
Indonesia Muda berhasil menjadi juara AFF U19 setelah melalui perjuangan
panjang selama 120 menit melawan Vietnam, tim yang pernah mengalahkannya pada
babak group. Untung sejarah tidak berulang (Baca tulisan tentang kiprah
Indonesia di Piala AFF : Untung Kita (Pernah) Kalah).
![]() |
| Foto : amtekcompany.com |
Sebagaimana kita bersama
ketahui, perkembangan komputer sebagai alat bantu manusia sudah tidak
disangsikan lagi. Komputer telah menjadi kebutuhan primer manusia.
Demikian juga dalam pembelajaran, komputer telah menjadi sebuah
kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Penggunaan komputer
secara intensif dalam pembelajaran lebih dikenal sebagai computer
based instruction.
Metode
pembelajaran berbasis komputer memang lebih rumit. Harus ada sebuah
kerjasama tim dalam pembuatannya. Ada programer yang memahami
berbagai piranti perangkat lunak yang terlibat dalam proses
pembelajaran. Ada pembuat skenario, apabila proses pembelajaran
tersebut melibatkan proses simulasi. Bahkan
mungkin perlu ada spesialis pembuat skrip, agar proses pembelajaran
yang dikemas melalui komputer dapat terasa alami.
Salah satu, metode pembelajaran berbasis komputer yang paling sederhana adalah presentasi multimedia. Dikatakan sederhana karena metode ini masih merupakan gabungan antara metode pembalajaran berbasis komputer yang digabung dengan metode konvensional (klasikal). Masih terjadi interaksi antarmanusia dalam metode pembelajaran ini, yang berarti tidak semuanya diskenario. Sebagian dari prosesnya tetap membutuhkan kemampuan pengajar dalam menguasai kelas.
Presentasi
multimedia akan lebih berhasil apabila tepat dalam menggunakan alat
bantu (software).
Kebanyakan orang di Indonesia
telah terbiasa menggunakan Microsoft
Powerpoint sebagai piranti pembantu presentasinya. Padahal, banyak
piranti lain yang sebenarnya dapat membantu proses presentasi ini.
Sebut saja LibreOfficeImpress, Kingsoft Presentation, Adobe Captivate, Prezi, PowToon,
bahkan Google Presentation. Semua bisa digunakan asalkan mengetahui
caranya.
Pada
pertemuan perkuliahan kedua, mahasiswa diharapkan mampu menguasai
piranti lunak pembantu presentasi. Karena, selama mereka berada di
kampus, mereka akan berhadapan dengan kewajiban presentasi yang rutin
dilakukan. Untuk menambah pemahaman, mahasiswa dapat mengunduh materi
online DISINI.

Satu kata itu cukup menyihir ribuan orang. Terbukti ketika ada formasi tersedia, rumah Pak RT ramai oleh orang yang minta pengantar. Padahal biasanya rumah Pak RT sepi karena warga takut jadi sasaran penderita (alias disuruh kerja bakti). Kelurahan juga tampak lebih meriah. Pegawai kelurahan yang biasanya sering santai, kali ini harus sedikit pontang-panting melayani rakyatnya. Puskesmas jadi ikutan laris melayani orang yang minta keterangan sehat, meskipun kadang ada juga yang datang ke sana sambil bolak-balik membersihkan ingusnya...hehehe. Nah saya kira di antara yang lainnya, Mapolres adalah yang paling sibuk. Mata para petugas tampak memerah karena kerja lembur (kalau kata-kata terakhir ini nggak usah dimasukkan memori ya, karena hanya majas hiperbolis saja). Pokoknya euphoria PNS menggejala di mana-mana.
Tidak hanya di dunia nyata, dunia maya juga dipenuhi dengan hal-hal yang berbau PNS. Ada kultwit tentang tips dan trik masuk PNS. Ada situs yang khusus menyediakan informasi PNS. Bahkan, ada website yang tega berbuat dusta dengan mengatasnamakan PNS (menurut informasi dari website resmi pemerintah, ada beberapa website yang mencoba menipu pengaksesnya dengan mengutip uang untuk mendaftar). Kesibukan menyambut PNS juga tampak pada beberapa situs pemerintah. Mereka sepertinya telah menyiapkan infrastruktur untuk menampung para peminat PNS ini, karena pengalaman sebelumnya yang sering jebol oleh berlimpahnya pendaftar online. Rasanya tak salah juga kalau blog ini ikut-ikutan memasang judul PNS, tujuannya ya mengail di air bening, biar lalu lintas blog agak meningkat…hehehe.
Sebenarnya apa sih tujuan orang menjadi PNS? Pertanyaan yang sebenarnya absurd, dan tak perlu dijawab. Tapi Saya nekat saja iseng-iseng tanya ke orang yang sedang antri mencari SKCK. Inti pertanyaannya adalah alasan dia ingin masuk PNS. "Sebenarnya udah kerja sih Mas, tapi saya ingin kerja yang lebih santai", begitu jawabnya. Mungkin sebagian besar pembaca menyetujui apa yang dikatakan “informan” saya tadi. Bekerja sebagai PNS lebih santai. Barangkali persepsi ini merupakan akumulasi pengalaman saat berinteraksi dengan para PNS. Seringkali PNS belanja saat jam kerja, main game saat harus melayani masyarakat, datang ke kantor siang, pulang sebelum waktunya dan lain-lain.
Alasan lain menjadi PNS barangkali adalah ketenangan hidup. Prestasi menjadi tidak penting lagi di dunia kerja PNS. Hitungan kenaikan pangkat biasanya karena senioritas. Akhirnya, orang yang bekerja di institusi negara cenderung lebih santai bekerja, tidak dikejar-kejar target, tidak dihantui tuntutan untuk berprestasi. Ketenangan hidup juga dicerminkan dengan harapan mendapatkan jaminan hari tua ketika mereka bekerja sebagai PNS. Pensiunan PNS dianggap sudah mencukupi kebutuhan hidup. Ketenangan hidup PNS semakin lengkap dengan kepercayaan yang tinggi pihak perbankan untuk memberikan pinjaman.
Terus, kira-kira bagaimana sebenarnya kehidupan para pegawai negeri sipil ya? Saya akan merangkum pengalaman berinteraksi dengan beberapa orang yang berstatus PNS. Pertama, sebut saja si Jonjon seorang pegawai bagian Humas di Pemkab. Saya amati Jonjon ini kok kerjanya sibuk sekali ya. Ketika Pemkab tempat Jonjon bekerja mempunyai kebijakan 5 hari kerja, kadang-kadang hari Sabtu pun dia ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Jam pulang yang seharusnya pukul 17.00 dia langgar dengan pulang Maghrib. Ketika kebijakan Pemkab berubah menjadi 6 hari kerja, si Jonjon yang seharusnya pulang jam 14.00, seringkali pulang jam 16.00. Kata Jonjon, kalau pekerjaan tidak diselesaikan hari itu akan menumpuk dan menambah pekerjaan di hari kemudian.
Ekonomi Jonjon pun saya lihat tidak bagu-bagus amat. Ukuran “ketenangan hidup” tampaknya tidak berlaku bagi PNS Jonjon ini. Bayangkan saja, baru tujuh hari melewati awal bulan, keuangan Jonjon sudah di ambang sekarat. Mana kendaraannya sering mogok. Wah, kok sepertinya memprihatinkan ya?
Berbeda dengan Jonjon, beda pula si Tiwi (bukan nama sebenarnya) yang menjadi PNS dosen. Tiwi ini jam kerjanya di kampus sampai sore (jam 16.00, sesuai kebijakan 5 hari kerja). Selain itu, dia mengerjakan segala sesuatunya di rumah. Pekerjaannya menumpuk. Menyiapkan materi kuliah, mengoreksi tugas, dan melakukan penelitian. Sering dia hanya tidur 3 jam sehari. Bahkan kabarnya saking menumpuknya pekerjaan, Tiwi sampai sakit.
Nah kalau PNS cara kerjanya seperti itu, dan tiba-tiba saja ada aturan yang terinspirasi dari blog ini serta meminta semua PNS untuk bekerja seperti Jonjon dan Tiwi di atas, masih adakah yang berminat menjadi PNS? Jawabnya mungkin masih. Alasannya, “Ah itu ‘kan hanya aturan, bisa di nego lah”. Case closed!
NB: Ketika tulisan ini mau saya publish kebetulan ketemu teman yang sudah kerja di sebuah perusahaan farmasi. Dia juga hendak melamar kerja sebagai PNS. Menurut teman itu, PNS bisa buat sambilan. Kemudian dia cerita mengenai teman-teman ibunya yang guru, sementara profesi utamanya adalah tukang ojek. Mereka datang semaunya saja ke sekolah. Anehnya gaji mengalir terus. Betulkah cerita teman itu? Ah, Allah yang Maha Tahu.
Foto : padangekspres.co.id

